• Orangutan
    • Mengapa Orangutan
    • Habitat Orangutan
      • Tentang Habitat Orangutan
      • Peran Penting
    • Ancaman Terhadap Orangutan
    • FAQ Orangutan
  • Tentang Kami
    • Pekerjaan Kami
      • Reintroduksi Satwa
      • Restorasi Ekosistem
    • Tim Kami
    • Sejarah
    • Karir
    • FAQ RHOI
  • Galeri
  • Publikasi
  • Narahubung
ID
EN ID
MENU
  • Orangutan
    • Mengapa Orangutan
    • Habitat Orangutan
      • Tentang Habitat Orangutan
      • Peran Penting
    • Ancaman Terhadap Orangutan
    • FAQ Orangutan
  • Tentang Kami
    • Pekerjaan Kami
      • Reintroduksi Satwa
      • Restorasi Ekosistem
    • Tim Kami
    • Sejarah
    • Karir
    • FAQ RHOI
  • Galeri
  • Publikasi
  • Narahubung
English Indonesia
Kembali ke Cerita
25 Mei, 2026

EKSPEDISI MONITORING & INVENTARISASI BIODIVERSITAS

Post Release Monitoring

Di balik lebatnya hutan Kehje Sewen, ada sekelompok orang yang berjalan bukan untuk berpetualang, bukan pula untuk mencari pengakuan. Mereka berjalan untuk memastikan bahwa hutan tetap memiliki kehidupan, dan bahwa setiap makhluk yang tinggal di dalamnya tetap memiliki rumah untuk pulang. Mereka adalah tim dari Divisi Biodiversity Program Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (PT. RHOI), gabungan dari tim Post Release Monitoring (PRM) dan tim Research and Biodiversity (RB).

Tim ini memiliki tugas yang tidak ringan: memantau keberadaan individu orangutan, mendata sarang orangutan, serta menginventarisasi keanekaragaman hayati, termasuk mengamati berbagai jenis burung yang hidup bebas di kanopi hutan. Bagi mereka, menjaga hutan berarti juga memperjuangkan kehidupan semua makhluk yang ada di dalamnya.

Persiapan dan Awal Perjalanan Ekspedisi

Ekspedisi dimulai pada 8 Februari 2026, ketika tim mulai menyiapkan berbagai perlengkapan. Setiap tas yang mereka siapkan bukan hanya berisi logistik, tetapi juga tanggung jawab yang besar. Keesokan harinya, 9 Februari 2026, tim memulai perjalanan memasuki hutan di bawah konsesi PT RHOI menuju lokasi pendirian tenda.

Perjalanan menuju lokasi kamp tidaklah singkat. Mereka menyusuri jalur hutan sambil berdiskusi dan mengingat rekan-rekan tim lain yang biasa membantu melalui jalur sungai menggunakan perahu. Dalam setiap perjalanan, banyak pihak terlibat untuk memastikan kegiatan konservasi dapat berjalan dengan aman, termasuk mereka yang mengemudikan perahu dan memastikan setiap perjalanan berjalan dengan selamat.

Menjelang sore hari, setelah berjalan cukup jauh, tim akhirnya tiba di lokasi dan mulai mendirikan tenda. Malam itu diisi dengan memasak makanan sederhana dari bekal yang dibawa, sekaligus menyusun rencana kerja untuk hari berikutnya.

Tim ekspedisi terdiri dari delapan orang, dengan pembagian tugas yang jelas: empat orang sebagai tim observasi, dua navigator sekaligus perintis jalur, serta dua orang yang bertugas menjaga tenda dan menyiapkan makanan. Tim observasi PRM difokuskan untuk mendata keberadaan orangutan dan sarangnya, termasuk mengukur berbagai parameter seperti tinggi sarang, tinggi pohon, diameter pohon, serta kondisi lingkungan sekitar. Sementara itu, tim Research and Biodiversity (RB) difokuskan pada pengambilan data aves atau burung di titik stasiun pemantauan yang telah ditentukan.

Membuka Jalur Transek dan Tantangan di Lapangan

Di dalam hutan, tidak ada suara ayam berkokok sebagai penanda pagi. Namun tubuh mereka sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit. Pagi hari dimulai dengan menyiapkan sarapan dan bekal makan siang. Tepat pukul 08.00, kegiatan dimulai dengan tujuan menuju transek L1, jalur baru yang akan dibuka untuk kegiatan monitoring.

Perjalanan dimulai dengan membersihkan jalur setapak agar dapat dilalui dengan lebih mudah. Awalnya mereka mengira jalur tersebut tidak terlalu jauh, namun kenyataannya perjalanan cukup panjang dan melelahkan. Mereka harus menyusuri sungai, menyeberangi mata air, serta melewati tanjakan demi tanjakan yang menguras tenaga.

Setelah perjalanan panjang, akhirnya tim tiba di pintu masuk transek L1. Navigator bergerak lebih dulu untuk membuka jalur dan menghemat waktu, sementara tim lainnya bersiaga mengamati kondisi sekitar. Sekitar pukul 15.00, mereka berhasil mencapai ujung transek. Namun, cuaca tiba-tiba berubah. Angin kencang datang disusul hujan deras yang mengguyur hutan. Demi keselamatan, tim memutuskan untuk segera kembali ke tenda agar kondisi tubuh tetap prima untuk kegiatan berikutnya.

Menariknya, perjalanan pulang terasa lebih cepat. Mereka tiba di tenda sekitar pukul 17.00 dalam kondisi basah kuyup, tetapi bersyukur karena semua anggota tim tetap sehat dan tidak ada yang mengalami cedera atau sakit.

Menyusuri Transek K1 dan Hamparan Pakis yang Tak Berujung

Keesokan harinya, 10 Februari 2026, tim kembali bersiap untuk membuka jalur transek berikutnya, yaitu K1. Jalur menuju pintu masuk transek ini tidak terlalu jauh dari tenda, sehingga perjalanan awal terasa lebih ringan.

Metode kerja masih sama: navigator berjalan di depan untuk membuka jalur, sementara tim lainnya mengikuti sambil melakukan pengamatan. Di tengah perjalanan, tim tiba di sebuah area yang sangat indah, berupa hamparan pakis yang membentang luas sejauh mata memandang. Pemandangan tersebut membuat mereka berhenti sejenak untuk beristirahat dan menikmati suasana hutan yang begitu menenangkan.

Namun, perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Arah GPS menunjukkan jalur yang harus dilalui justru mengarah ke area pakis yang sangat rapat dengan tebing tinggi di sekitarnya. Navigator mencoba mencari jalur alternatif dan sempat menemukan jalan yang memungkinkan untuk dilalui, tetapi tidak lama kemudian jalur tersebut kembali tertutup oleh pakis yang sangat rapat di kanan dan kiri.

Tim akhirnya harus berjalan perlahan menyusuri celah di antara pakis yang tinggi dan rapat. Berjam-jam waktu dihabiskan di area tersebut, namun ujung hamparan pakis tidak kunjung ditemukan. Waktu terus berjalan hingga akhirnya pukul 15.00, dan tim menyadari bahwa tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan hingga ujung transek K1.

Dengan rasa kecewa, tim akhirnya memutuskan untuk kembali ke tenda sebelum hari menjadi gelap. Hari itu ditutup dengan perasaan lelah dan kecewa karena target belum tercapai.

Di Balik Setiap Data, Ada Perjuangan

Ekspedisi monitoring orangutan dan inventarisasi biodiversitas bukan hanya tentang angka, data, atau laporan. Di balik setiap data yang dikumpulkan, ada perjalanan panjang, medan yang sulit, cuaca yang tidak menentu, serta tenaga dan semangat yang tidak sedikit.

Namun, semua itu menjadi bagian dari upaya besar untuk memastikan bahwa orangutan yang telah dilepasliarkan tetap dapat dipantau keberadaannya, dan bahwa hutan Kehje Sewen tetap menjadi rumah yang aman bagi berbagai jenis satwa liar dan tumbuhan.

Terkadang rencana tidak berjalan sesuai harapan, jalur tidak selalu bisa ditembus, dan target tidak selalu tercapai. Namun, seperti hutan yang tumbuh perlahan, pekerjaan konservasi juga membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kerja sama banyak pihak.
Karena pada akhirnya, semua langkah yang mereka ambil di dalam hutan memiliki tujuan yang sama: memastikan bahwa hutan tetap ada, dan semua kehidupan di dalamnya tetap memiliki tempat untuk pulang.

Teks oleh: Tim Biodiversity-PRM, PT. RHOI di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur

  • Share
  • Logo Facebook
  • Logo Twitter

Cerita Lainnya

Post Release Monitoring
AKHIR PEKAN BERSAMA AGUS!
02 Juni 2015
Post Release Monitoring
BEKERJA DI HUTAN BISA SANGAT MENDEBARKAN!
18 Oktober 2021
Post Release Monitoring
BIDIKAN PENEMBAK JITU HUTAN!
20 Februari 2023
PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (PT. RHOI) didirikan oleh Yayasan BOS pada tanggal 21 April 2009 untuk menyediakan tempat aman yang permanen bagi orangutan agar mereka dapat hidup dalam kebebasan.
MENU
  • Orangutan
  • Tentang Kami
  • Galeri
  • Publikasi
  • Narahubung
DAPATKAN BERITA TERBARU KAMI

Dapatkan pembaruan eksklusif tentang pekerjaan kami dan bagaimana Anda dapat membantu.

KERJA SAMA
Copyright ©2026 RHOI. All RIghts Reserved. Site by Site by WEBARQ
Narahubung