26 Okt, 2026
EDUKASI MITIGASI BENCANA SEJAK DINI DI DESA DEA BEQ
Pemberdayaan Masyarakat
Keberlanjutan ekosistem hutan hujan Kalimantan tidak hanya bergantung pada kerja keras tim di kawasan Restorasi Ekosistem, tetapi juga sangat ditentukan oleh ketanggapan masyarakat di desa-desa penyangga. Salah satu kawasan kunci yang berbatasan dengan habitat alami orangutan adalah Desa Dea Beq, Kecamatan Muara Wahau. Di desa inilah PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) memandang penting untuk membangun kesadaran pelestarian lingkungan dan kesiapsiagaan bencana yang dimulai langsung dari generasi muda.
Upaya tersebut dimulai di SDN 018 Muara Wahau pada Kamis, 20 Agustus 2026. Anak-anak berkumpul dengan antusias untuk mengikuti kegiatan edukasi dan simulasi mitigasi bencana alam. Program ini dirancang khusus untuk membantu anak-anak mengenali berbagai potensi risiko bencana di sekitar mereka, serta memahami tindakan evakuasi yang tepat dan aman saat situasi darurat terjadi.
Pembelajaran Interaktif dan Simulasi Evakuasi Darurat
Rangkaian kegiatan edukasi dibuka dengan pemaparan mengenai tiga jenis bencana alam yang sering menjadi ancaman di lingkungan sekitar, yaitu gempa bumi, kebakaran hutan atau permukiman, dan banjir. Di dalam ruang kelas, anak-anak diperkenalkan pada langkah-langkah dasar penyelamatan diri, cara mengenali simbol dan rute evakuasi, serta prosedur menuju titik kumpul yang aman.
Sesi penyampaian materi berlangsung sangat interaktif. Tim fasilitator menyajikan visual yang menarik untuk memicu rasa ingin tahu siswa. Setiap kali pertanyaan dilemparkan ke tengah ruangan, tangan-tangan mungil terangkat serentak diiringi jawaban yang bersahutan riang. Suasana semakin hangat ketika penayangan video simulasi dimulai. Beberapa anak bahkan tampak terpaku menatap layar monitor, menyerap setiap detail adegan penyelamatan yang selama ini mungkin hanya pernah mereka dengar dari cerita orang tua atau guru.
Setelah pemahaman teori dirasa cukup, pembelajaran langsung berlanjut ke tahap praktik melalui simulasi evakuasi darurat. Begitu sirine tanda bahaya buatan dibunyikan, suasana kelas berubah menjadi riuh dan penuh semangat. Anak-anak secara sigap mempraktikkan cara melindungi kepala, berjalan menunduk, dan saling berkoordinasi untuk mencari tanda petunjuk arah evakuasi.
Sahutan dan jeritan gembira terdengar riuh saat mereka memastikan satu sama lain bergerak ke arah yang benar menuju titik kumpul di lapangan terbuka. Simulasi ini tidak hanya menguji ketangkasan fisik anak-anak, tetapi juga menanamkan kebiasaan untuk tetap tenang dan terstruktur dalam menghadapi potensi kepanikan saat bencana nyata terjadi di masa yang akan datang.
Praktik Pemadaman Api dan Pengenalan Alat Pemadam
Keseruan dan antusiasme para siswa SDN 018 Muara Wahau semakin memuncak ketika kegiatan memasuki sesi praktik pemadaman api secara langsung di lapangan. Mengingat ancaman kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu risiko lingkungan terbesar di Kalimantan yang kerap mengancam permukiman serta habitat orangutan, pengenalan teknik pemadaman sejak dini menjadi materi yang sangat penting.
Dalam sesi ini, anak-anak diperkenalkan pada dua jenis alat pemadam utama, yaitu Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk skala kecil modern dan dahan pohon (fire beater) sebagai alat pemadaman tradisional yang adaptif di area bervegetasi. Tim memberikan peragaan cara memegang hose, membuka segel APAR, hingga teknik mengibaskan kepyok dahan untuk mematikan titik api secara efektif dan aman.
Para siswa diberikan kesempatan untuk melihat langsung bagaimana kobaran api buatan berhasil dijinakkan menggunakan alat-alat tersebut. Kejadian menarik muncul di tengah kerumunan siswa yang menyaksikan simulasi dengan mata berbinar. Seorang anak tiba-tiba berseru dengan polos dan penuh semangat, “Aku mau jadi pemadam kebakaran nanti!”
Celetukan sederhana namun jujur tersebut menjadi gambaran nyata betapa kegiatan ini berhasil memantik keberanian, empati, dan kepedulian mereka terhadap keselamatan lingkungan sekitar.
Menanamkan Kesadaran Berdampingan dan Menjaga Hutan
Di balik riuhnya simulasi evakuasi dan keseruan praktik pemadaman api, terdapat pesan mendasar yang jauh lebih besar dan mendalam yang ingin disampaikan PT RHOI kepada anak-anak di Desa Dea Beq. Melalui momentum ini, para siswa diajak untuk memahami tujuan hubungan antara manusia, alam, dan keberadaan hutan hujan tropis yang mengelilingi tempat tinggal mereka.
Anak-anak diberi pemahaman bahwa hutan bukan sekadar bentangan pohon-pohon tinggi atau sumber daya kayu semata, melainkan sebuah ekosistem kehidupan yang menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan satwa liar, termasuk orangutan. Hutan Kalimantan yang terjaga kelembapannya secara alami berfungsi sebagai penyerap air hujan untuk mencegah banjir, sekaligus sebagai penyeimbang iklim yang mencegah kekeringan dan kebakaran besar. Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan pada dasarnya adalah upaya menjaga rumah bersama tempat hidup manusia dan satwa.
Sebab, kesiapsiagaan sejati tidak hanya diukur dari apa yang kita lakukan ketika bencana melanda, melainkan dari sejauh mana kita mampu menjaga, merawat, dan melestarikan alam sebelum bencana terjadi.
Text by: Commdev Team PT RHOI, East Kalimantan