• Orangutan
    • Mengapa Orangutan
    • Habitat Orangutan
      • Tentang Habitat Orangutan
      • Peran Penting
    • Ancaman Terhadap Orangutan
    • FAQ Orangutan
  • Tentang Kami
    • Pekerjaan Kami
      • Reintroduksi Satwa
      • Restorasi Ekosistem
    • Tim Kami
    • Sejarah
    • Karir
    • FAQ RHOI
  • Galeri
  • Publikasi
  • Narahubung
ID
EN ID
MENU
  • Orangutan
    • Mengapa Orangutan
    • Habitat Orangutan
      • Tentang Habitat Orangutan
      • Peran Penting
    • Ancaman Terhadap Orangutan
    • FAQ Orangutan
  • Tentang Kami
    • Pekerjaan Kami
      • Reintroduksi Satwa
      • Restorasi Ekosistem
    • Tim Kami
    • Sejarah
    • Karir
    • FAQ RHOI
  • Galeri
  • Publikasi
  • Narahubung
English Indonesia
Kembali ke Cerita
12 Okt, 2026

MISI TRANSLOKASI ORANGUTAN GURU KE HUTAN KEHJE SEWEN

Keanekaragaman Hayati

Dinamika perubahan tata guna lahan menciptakan tantangan tersendiri bagi kelangsungan hidup orangutan.

Kondisi tersebut bisa membuat orangutan terdesak dan malah mendekati area aktivitas manusia, seperti yang terjadi oleh orangutan bernama Guru yang sering muncul di jalan akses operasional PT SRH  yang dapat membuat nyawanya dalam bahaya.

Langkah cepat dan terukur harus segera diambil. Pertanyaannya secepat dan seterukur apa langkah yang diambil? Simak cerita Guru selengkapnya di sini.

Upaya Sebelum Translokasi yang Dilakukan Dengan Berkolaborasi

Keberadaan Guru teridentifikasi setelah masyarakat melaporkan kemunculannya di sekitar jalan hauling PT SRH, Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur. Laporan masuk melalui Call Centre Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menjadi titik awal dari serangkaian respons cepat dan kolaborasi.

Pasalnya, penyelamatan orangutan liar dewasa akan sangat sulit jika dilakukan tanpa sinergi banyak pihak, yang mana dalam kasus penyelamatan Guru terbentuk kerja sama antara BKSDA Kalimantan Timur, Conservation Action Network (CAN), pihak perusahaan, serta PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) yang sejak Juli 2026 sudah memulai proses penelusuran, pemantauan lapangan, dan pengumpulan informasi secara intensif dengan pelacakan jalur menggunakan drone yang dikombinasikan dengan patroli darat untuk memastikan kondisi lingkungan tetap kondusif.

Hingga pada tanggal 17 September 2026 dilakukan penyelamatan terhadap Guruyang setelahnya dilanjutkan ke tahap translokasi menuju Hutan Kehje Sewen. Dukungan logistik dan operasional mulai disiapkan oleh PT RHOI untuk melancarkan upaya ini.

Guru Jadi Gambaran Orangutan Liar yang Sehat dan Matang

Menyelamatkan orangutan Guru dari kawasan yang bukan habitatnya adalah satu hal, memastikan bahwa Guru siap untuk kembali ke alam liar adalah hal lain.

Dari hasil pemeriksaan medis yang dilakukan oleh tim dokter hewan, Guru teridentifikasi sebagai orangutan jantan dengan perkiraan usia sekitar 25 tahun dan bobot tubuh mencapai ±51,6 kg. Di kondisinya saat ini Guru tergolong sedang dalam puncak masa primanya sebagai orangutan jantan dewasa yang jadi gambaran ideal dari orangutan liar yang sehat.

Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa ia sangat aktif, memiliki refleks alami yang tajam, serta memiliki nafsu makan yang baik. Karakteristik ini menunjukkan bahwa meskipun sempat beraktivitas dekat dengan area manusia, Guru tidak kehilangan insting liarnya.

Kesehatan fisik dan mental yang prima ini menjadi modal utama bagi Guru untuk beradaptasi dengan cepat di lingkungan barunya. Karena sebagai orangutan jantan dewasa Guru memiliki peran penting dalam struktur populasi di alam liar, baik dalam menjaga dinamika wilayah teritorialnya maupun dalam mendukung regenerasi populasi orangutan di Hutan Kehje Sewen.

Tantangan Translokasi Orangutan Liar yang Sudah Dewasa

Proses memindahkan orangutan liar dewasa seperti Guru memiliki tingkat kesulitan dan risiko operasional yang sangat tinggi. Berbeda dengan orangutan muda atau individu rehabilitan yang sudah terbiasa dengan kehadiran manusia, orangutan liar dewasa memiliki kekuatan fisik yang luar biasa dan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi.

Proses evakuasi dan pengangkutan di lapangan jadi tantangan utama, karena medan darat di wilayah Kutai Timur sering kali tidak mudah ditaklukkan, dengan rute yang berliku, cuaca yang tidak menentu, serta akses transportasi yang terbatas. Mengangkut kandang translokasi berisi orangutan jantan dewasa melintasi jalur darat dan sungai membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Tantangan juga datang dari kepastian kualitas habitat tujuan. Memindahkan orangutan dewasa ke lokasi baru membutuhkan kepastian bahwa area tersebut memiliki ketersediaan pakan, sumber air bersih, serta kepadatan populasi orangutan yang seimbang agar tidak memicu konflik teritorial.

Beruntungnya, Hutan Kehje Sewen memenuhi seluruh kriteria tersebut. Sebagai kawasan Restorasi Ekosistem, Kehje Sewen menyediakan ruang hidup yang terlindungi dan kaya akan keanekaragaman hayati yang dibutuhkan oleh Guru. 

Tanggal 18 September 2026, Guru akhirnya tiba di Hutan Kehje Sewen. Pembukaan pintu kandang jadi perkenalannya dengan Hutan Kehje Sewen.

  • Share
  • Logo Facebook
  • Logo Twitter

Cerita Lainnya

Keanekaragaman Hayati
BINTURUNG: SI TETANGGA MISTERIUS
06 Februari 2023
Keanekaragaman Hayati
PESTA MUSIM BUAH LAHUNG YANG DISUKAI ORANGUTAN
31 Agustus 2026
Keanekaragaman Hayati
SEPASANG PELATUK RAFFLES DI HUTAN KEHJE SEWEN
17 Maret 2025
PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (PT. RHOI) didirikan oleh Yayasan BOS pada tanggal 21 April 2009 untuk menyediakan tempat aman yang permanen bagi orangutan agar mereka dapat hidup dalam kebebasan.
MENU
  • Orangutan
  • Tentang Kami
  • Galeri
  • Publikasi
  • Narahubung
DAPATKAN BERITA TERBARU KAMI

Dapatkan pembaruan eksklusif tentang pekerjaan kami dan bagaimana Anda dapat membantu.

KERJA SAMA
Copyright ©2026 RHOI. All RIghts Reserved. Site by Site by WEBARQ
Narahubung