• Orangutan
    • Mengapa Orangutan
    • Habitat Orangutan
      • Tentang Habitat Orangutan
      • Peran Penting
    • Ancaman Terhadap Orangutan
    • FAQ Orangutan
  • Tentang Kami
    • Pekerjaan Kami
      • Reintroduksi Satwa
      • Restorasi Ekosistem
    • Tim Kami
    • Sejarah
    • Karir
    • FAQ RHOI
  • Galeri
  • Publikasi
  • Narahubung
ID
EN ID
MENU
  • Orangutan
    • Mengapa Orangutan
    • Habitat Orangutan
      • Tentang Habitat Orangutan
      • Peran Penting
    • Ancaman Terhadap Orangutan
    • FAQ Orangutan
  • Tentang Kami
    • Pekerjaan Kami
      • Reintroduksi Satwa
      • Restorasi Ekosistem
    • Tim Kami
    • Sejarah
    • Karir
    • FAQ RHOI
  • Galeri
  • Publikasi
  • Narahubung
English Indonesia
Kembali ke Cerita
04 Mar, 2026

MERAWAT WARISAN ALAM BERSAMA MASYARAKAT ADAT

Pemberdayaan Masyarakat

World Wildlife Day 2026 mengangkat tema Medicinal and Aromatic Plants: Conserving Health, Heritage, and Livelihoods. Tema ini, menyoroti peran penting tumbuhan obat dan aromatik dalam menjaga kesehatan manusia, melestarikan pengetahuan tradisional, serta menopang mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada alam. 

Tema ini selaras dengan upaya yang selama ini dijalankan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat adat dan komunitas lokal (Indigenous Peoples and Local Communities-IPLCs), baik di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Masyarakat Adat dan Hutan: Hubungan yang Tak Terpisahkan

Bagi masyarakat adat dan komunitas lokal, hutan bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga sumber pangan, obat-obatan, pengetahuan, dan identitas budaya. Namun, kelompok ini kerap berada di posisi yang terpinggirkan, menghadapi keterbatasan akses terhadap hak atas tanah dan sumber daya alam, sekaligus tekanan dari perubahan lanskap dan pembangunan skala besar.

Melalui program pemberdayaan masyarakat, Yayasan BOS bekerja bersama 28 komunitas di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur untuk memperkuat kapasitas kelembagaan masyarakat, mendukung proses pengakuan hak atas kawasan hutan dan lahan tradisional, serta mendorong keterlibatan aktif mereka dalam perlindungan dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada konservasi satwa liar, tetapi juga pada keberlanjutan hidup masyarakat yang telah lama menjaga hutan tersebut.

115 Jenis Tanaman Lokal: Pengetahuan yang Hidup

Dari pendampingan yang dilakukan di 28 komunitas tersebut, tercatat kurang lebih 115 jenis tanaman lokal yang terdiri dari tanaman pangan, tanaman obat, dan hasil hutan bukan kayu. Tanaman-tanaman ini bukan sekadar data inventaris, melainkan bagian dari pengetahuan hidup yang telah diwariskan lintas generasi dan masih digunakan hingga kini oleh masyarakat setempat sesuai dengan kegunaannya.

Salah satu contoh adalah daun pucuk putat (Planchonia valida) yang berkhasiat sebagai obat tradisional untuk maag/kembung, paru-paru (bronkitis), dan kesehatan rambut. Daun ini juga kaya kalsium, fosfor, dan vitamin B, serta sering dijadikan lalapan karena sifat antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi yang baik untuk meredakan radang gusi dan stres. Contoh lainnya yaitu buah parijoto (Medinilla speciosa) yang kaya akan antioksidan yang bermanfaat meningkatkan kesuburan, menjaga daya tahan tubuh ibu hamil, serta mengatasi diare dan sariawan. Selain itu, juga ada Pasak bumi (Eurycoma longifolia) dikenal sebagai herbal penambah stamina dan vitalitas pria. 

Menjaga Kesehatan, Warisan, dan Mata Pencaharian

Sejalan dengan tema World Wildlife Day, program pemberdayaan Yayasan BOS menempatkan tanaman obat dan hasil hutan bukan kayu sebagai jembatan antara kesehatan, warisan budaya, dan mata pencaharian berkelanjutan. Dengan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mendokumentasikan, mengelola, dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, masyarakat tidak hanya menjaga pengetahuan leluhur, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi yang ramah lingkungan.

Pendekatan ini memastikan bahwa konservasi tidak berjalan terpisah dari kesejahteraan manusia. Justru sebaliknya, perlindungan hutan menjadi lebih kuat ketika masyarakat yang bergantung padanya memiliki peran, hak, dan manfaat yang adil.

Konservasi yang Inklusif untuk Masa Depan

Melalui penguatan IPLCs, Yayasan BOS mendorong model konservasi yang inklusif, di mana masyarakat adat dan komunitas lokal menjadi aktor utama dalam menjaga hutan, melindungi keanekaragaman hayati, serta mempertahankan pengetahuan tradisional yang relevan bagi tantangan masa kini, termasuk kesehatan dan ketahanan hidup.

Pada momentum World Wildlife Day ini, kisah dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mengingatkan kita bahwa melindungi satwa liar dan tumbuhan obat berarti juga melindungi manusia, budaya, dan masa depan bersama. Karena ketika hutan dijaga dengan berkesadaran, manfaatnya akan terus mengalir dari alam untuk kehidupan.

Teks oleh: Tim Komunikasi Kantor Pusat BOS, Bogor, Jawa Barat

  • Share
  • Logo Facebook
  • Logo Twitter

Cerita Lainnya

Pemberdayaan Masyarakat
RHOI MEMBANTU RITUAL NAQ LOM TETAP TERSELENGGARA
25 Oktober 2021
Pemberdayaan Masyarakat
PROMOSI BUDAYA SUKU DAYAK WEHEA DI EXPLORE BORNEO INDONESIA
19 April 2021
Pemberdayaan Masyarakat
SEMARAK KEMERIAHAN LAQ PESYAI: TRADISI UNIK SUKU DAYAK WEHEA
05 Agustus 2024
PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (PT. RHOI) didirikan oleh Yayasan BOS pada tanggal 21 April 2009 untuk menyediakan tempat aman yang permanen bagi orangutan agar mereka dapat hidup dalam kebebasan.
MENU
  • Orangutan
  • Tentang Kami
  • Galeri
  • Publikasi
  • Narahubung
DAPATKAN BERITA TERBARU KAMI

Dapatkan pembaruan eksklusif tentang pekerjaan kami dan bagaimana Anda dapat membantu.

KERJA SAMA
Copyright ©2026 RHOI. All RIghts Reserved. Site by Site by WEBARQ
Narahubung